KKG Gugus V Waru Gelar Diskusi Intensif Bahas Hambatan Belajar Siswa Fase B di SDN Bajur 3

📅 11 April 2026 ✍️ Admin 👁️ Dibaca 51 kali
Cover

PAMEKASAN – Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus V Kecamatan Waru kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui kegiatan diskusi rutin. Pada Sabtu (11/04/2026), para pendidik berkumpul di SDN Bajur 3 untuk membedah berbagai hambatan belajar yang dihadapi siswa Fase B (Kelas 3 dan 4). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB ini dihadiri oleh jajaran guru kelas dari berbagai sekolah di lingkup Gugus V, serta para tamu undangan terkait.

Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Kepala SDN Bajur 3. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa Fase B adalah masa transisi krusial di mana fondasi kognitif dan karakter anak harus diperkuat. Hal ini senada dengan arahan Ketua KKG Gugus V yang dalam sambutannya mengajak seluruh guru untuk saling berbagi praktik baik (best practice) dalam menghadapi tantangan di ruang kelas.

Inti dari kegiatan ini adalah diskusi mendalam mengenai hambatan belajar yang cukup menonjol di wilayah tersebut. Setidaknya ada tiga poin krusial yang menjadi sorotan utama para peserta diskusi:

Tantangan Literasi: Masih ditemukannya siswa di level Fase B yang memerlukan pendampingan ekstra dalam memahami teks bacaan secara mendalam. Para guru sepakat untuk memperkuat program literasi sekolah yang lebih menyenangkan.

Dampak Orang Tua Merantau: Sebagai daerah yang memiliki mobilitas penduduk tinggi, banyak siswa di Gugus V yang ditinggal orang tuanya merantau. Kurangnya pendampingan belajar di rumah secara langsung berdampak pada menurunnya minat belajar anak. Diskusi ini merumuskan pentingnya keterlibatan wali atau keluarga terdekat sebagai pengganti peran orang tua.

Isu Bullying (Perundungan): Masalah perundungan antar teman menjadi perhatian serius. Guru melaporkan bahwa anak yang menjadi korban cenderung menjadi pendiam dan enggan mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM). Langkah preventif melalui pendidikan karakter dan pengawasan ketat disepakati sebagai solusi utama.

Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama untuk menerapkan hasil diskusi di sekolah masing-masing. Melalui diskusi ini, diharapkan tidak ada lagi anak yang tertinggal dalam proses belajarnya hanya karena faktor lingkungan maupun psikologis.

"Kita ingin memastikan sekolah adalah tempat yang aman dan nyaman bagi anak untuk tumbuh, terlepas dari apa pun latar belakang keluarga mereka," ujar salah satu peserta diskusi di akhir acara.