Membedah Kendala Belajar Fase A, KKG Gugus V Waru Gelar Diskusi Solutif di SDN Sumber Waru 2

📅 27 Januari 2026 ✍️ Admin 👁️ Dibaca 48 kali
Cover

Pamekasan - Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus V Kecamatan Waru kembali menggelar pertemuan rutin yang kali ini difokuskan pada penguatan literasi dan penanganan hambatan belajar siswa kelas rendah. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (27/01/2026) ini bertempat di SDN Sumber Waru 2 dan dihadiri oleh ketua KKG serta guru-guru kelas 1 dan 2 se-Gugus V.

Pertemuan ini menjadi sangat krusial mengingat Fase A (Kelas 1 dan 2) merupakan masa transisi penting dalam pondasi pendidikan dasar. Kepala SDN Sumber Waru 2 dalam sambutannya menekankan bahwa deteksi dini terhadap hambatan belajar adalah kunci agar siswa tidak mengalami kesulitan berkelanjutan di jenjang berikutnya.

Mengupas Tuntas Masalah Motorik dan Visual
Dalam sesi diskusi inti, para guru saling berbagi temuan kasus unik yang terjadi di ruang kelas. Terdapat tiga poin utama yang menjadi sorotan peserta rapat:

  1. Gangguan Fokus Visual Spasial: Ditemukan siswa yang mampu menulis dengan baik jika contoh berada di dekatnya (buku tulis), namun kehilangan arah saat harus menyalin tulisan dari papan tulis. Para guru sepakat bahwa hal ini memerlukan latihan koordinasi mata dan tangan secara bertahap.

  2. Kematangan Motorik Halus: Diskusi menghangat saat membahas siswa yang memiliki genggaman tangan kuat untuk alat makan, namun mendadak lemah saat memegang pensil. Fenomena ini dianalisis sebagai kebutuhan penguatan otot interosseous pada jari yang bisa dilatih melalui kegiatan bermain kreatif seperti meronce atau bermain lempung (playdough).

  3. Daya Ingat Simbolik: Guru-guru juga merumuskan strategi multisensori untuk membantu siswa yang sulit membedakan huruf-huruf serupa, agar proses membaca tidak lagi menjadi beban bagi anak.

Ketua KKG Gugus V menyampaikan bahwa hasil diskusi ini bukan sekadar teori, melainkan akan menjadi panduan praktis bagi guru-guru di wilayah Gugus V. "Kita ingin KKG menjadi wadah nyata bagi guru untuk saling menguatkan. Masalah satu guru di satu kelas, adalah pelajaran bagi kita semua," ungkapnya.

Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama untuk menerapkan metode pembelajaran yang lebih inklusif dan sabar dalam mendampingi tumbuh kembang siswa di fase awal sekolah dasar.